Hidup memang penuh kejutan, setidaknya bagiku. Semuanya berawal dari pembicaraanku dengan Mama sebulan yang lalu. Aku dan Mama sedang sarapan saat Mama tiba-tiba membuka pembicaraan.
“Sampai kapan Mama harus mengurus kamu, Mala?” Pertanyaan Mama membuatku tertegun.
”Maksud Mama?” aku menatap Mama. Mencoba menerka arah pembicaraannya.
”Yah, bukankah sudah saatnya ada Lelaki lain yang menemani kamu sarapan?” Mama tersenyum menatapku.
Mungkin memang sudah waktunya aku menikah. Tahun ini usiaku dua puluh sembilan tahun. Penghasilanku sebagai operator di salah satu warnet cukup memadai untuk berumah tangga. Apalagi yang ditunggu? Pertanyaan ini sudah sangat sering kudengar dari kerabat ataupun kolegaku.
Aku tersenyum kecil.
”Mama tahu, kamu merasa bertanggungjawab kepada Mama dan adik-adikmu. Tetapi jangan lupakan yang satu itu. Sementara Mama sudah lebih dari cukup menerima perhatianmu. Mama sangat bersyukur memiliki anak sepertimu.”
Aku terdiam.
”Mala…” Mama menunggu jawabanku.
”Iya, iya, Insya Allah. Mama…”
Mama benar. Tidak ada lagi alasan bagiku untuk menunda rencana berkeluarga
Sebenarnya, aku bisa minta bantuan kepada orang lain, kerabat atau dengan senang hati pasti akan berusaha membantu. Tetapi, sebelum meminta bantuan orang lain, aku akan sholat istikharah dulu. Aku ingin melangkah dengan tenang.
Dan terjadilah keajaiban itu. Setelah dua kali sholat, tiba-tiba muncul dalam mimpiku. Begitu jelas.ada seorang pemuda hadir dalam mimpiku ? Aku tercengang. Sudah hampir dua tahun ini aku mengenal dia. Ia sangat baik,setia dan bertanggung jawab. Ia juga kerap menyayangi keluargaku dan hormat pada orang tuaku.
Ya, mengapa harus dia? Lelaki yang kepribadiannya begitu kuat dan tenang, sampai tidak ada pria yang berani menjalin hubungan lebih dekat denganku. Sebenarnya dia baik, sangat baik. Ia tidak pernah segan membantu orang lain atau berkata kasar.
Mimpi itu juga menyisakan pertanyaan buatku. Benarkah ini isyarat Allah?
“Bagaimana, Mala?” Mama meminta kejelasan dari aku . Aku hanya mampu tersenyum kecut.
“Belum ada calon? Apa perlu Mama bantu?” Mama menatapku.
Aku tergagap. “Tidak perlu, Ma. Saya akan mencoba mencari sendiri saja.” Mama tersenyum. Aku menarik napas lega. Untuk sementara aku berhasil menenangkan Mama.
Malamnya, aku mencoba menenangkan diri dan mulai sholat istikharah lagi. Kali ini, aku mencoba lebih tenang dan pasrah kepada Allah. Aku mencoba melepaskan segala kebimbangan dan sungguh-sungguh meminta keputusan-Nya.
Aku berjalan bersisian dengan Aa Begitu dekat, hubungan cinta aku m Aa bnyk bgt ujiannya,tahun ini aku seharusnya menikah tapi berhubung si Aa dapat musibah kecelakaan motor,uang biaya pernikahan buat biaya rumah sakit.
Akhirna pernikahanku tertunda,Apakah Aa memang jodohku? Pertanyaan itu kembali bermain dalam benakku
Hidup penuh dengan Kejutan,aku cuma bisa berdoa semoga alloh memberikan aku jodoh yang terbaik,doain y teman-teman.
nurmala.com
Selamat Jalan, Nenek & Pamanku Tercinta ........
15 tahun yang lalu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar